RSS

Menjadi Bagpacker Dadakan

Heii Saudara

23 April 2012. Pukul 18.00
Aku basahi tubuhku dengan air yang sudah tertampung di bak biru kamar mandiku. Kulit yang sebelumnya tampak sedikit berminyak mulai basah dengan guyuran dari gayung biruku. Setidaknya, saya masih terlihat lebih fresh daripada sebelumnya. Dengan muka yang pas-pasan ini, saya mulai mempersiapkan diriku dalam kamar. Dengan baju motif favoritku, kotak-kotak, berwarna biru dan celana panjang kusiapkan diriku sebaik mungkin.  Tas yang baru saja dibeli dari "Mall" yang ada di Situbondo sudah kupenuhi dengan perlengkapan yang saya butuhkan selama 3 hari di kota orang. Ya. Saya akan pergi ke Tanah Tuan selama 1 hari dengan perjalanan darat menggunakan bus yang akan memakan waktu 24 jam. WOW!

Playlist siap, Jaket Germany Deutscher Fussbal siap, Buku bacaan ringan siap.

Saya siap bolang!

Perjalananku ke daerah barat ini ditemani oleh 2 teman. Dadan dan Roby. Roby nampaknya lebih suka menghabiskan waktu dalam perjalanan dengan tidur atau mengatakan "Katondhu" artinya ngantuk. Begitulah Roby. Saya juga baru mengenalnya. Kalo Dadan, dia nampaknya lebih suka menjalani apa adanya. Kalo ngantuk ya tidur dan kalo pengen denger lagu ya minjem headset dan menikmati selera musiknya sendiri. Saya menikmati perjalanan ini dengen sesekali mendengarkan lagu yang telah kupersiapkan dari rumah dengan headset pinjaman dari Anggi. Atau saya membaca buku pinjaman dari Raras "Musim yang Menggugurkan Daun" karya Yetti A.K.A. Setidaknya, buku pinjaman itu bisa menambah kosa kata sastra.  -___- Atau menikmati pemandangan yang cukup indah.
Hampir sepanjang jalan banyak bunga jagung yang tumbuh. Walaupun, tidak semuanya.
Dalam perjalanan ternyata tidak semulus yang saya kira. Makan yang telat, AC yang terlalu dingin *maklum saya orang desa*, perut yang sakit, leher yang pegel, dan sebagainya.

Akhirnya, kami sampai di kota tujuan kami. Bogor. Kami turun di Terminal Baranang Siang dengan bantuan salah satu Bapak yang ternyata orang Besuki. *Kita saudara,Pak*. Saat itu hari sudah berganti hari selanjutnnya dan kami tiba pukul 19.00 WIB. Awalnya, kami ingin naik Angkot, tapi apa daya, kami buta arah. Walaupun sebenarnya kami memegang peta dan petunjuk ke tempat yang ingin kami tuju. Akhirnya, kami putuskan naik Taxi. Ya, dengan 3 orang, 100 ribu bisa dibagi 3. Puji Tuhan, kami sampai di tempat tujuan.


25 April 2012
Lagu  Hey Soul Sister punya Train membangunkan saya dari tidur yang nyenyak. Saya bersiap untuk pertama kalinya mandi di rumah orang lain. Airnya tidak terlalu dingin. Entah karena kulit saya yang hangat karena keringat yang mengucur cukup deras dari kemarin. hehehe. Yang jelas, air tadi sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Saya disegarkan dengan air kamar mandi yang selama 2 hari tidak saya rasakan. :3
Urusan berjalan lancar.

Pukul 13.00 saya sudah keluar dari penginapan dadakan dan menunggu 2 teman saya tadi plus Edo di luar warung Nasi Goreng yang jadi langganan dadakan kami. Dibawah terik matahari, Jaket Germany Deutscher Fussbal yang awalnya dipakai, saya tanggalkan. Cukup syal ungu pemberian mama, baju ungu, dan celana panjang jeans yang saya kenakan. Demi apa, tas yang saya bawa sungguh berat. Tidak seenteng tas teman saya yang lain. Berat rasanya.
Dengan bodohnya, saya masih menjinjing tas dan menunggu diluar warung dibawah sinar matahari. Saya ingin masuk kedalam. Tapi ternyata, didalam ada pasangan suami istri yang sedang makan. Saya sungkan. Apalagi, bapaknya make topi Germany Deutscher Fussbal. Tambah sungkan.
Tak lama kemudian, Edo, Dadan dan Roby pun datang. Kami masuk kedalam warung. Disana kami bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam hal kendaraan yang akan kami gunakan untuk pulang ke Situbondo. Ternyata, musyawarah kami ini melibatkan orang luar juga. Ibu-ibu warung, Bapak topi Germany Deutscher Fussbal, dan sang istri, Tante Reni ikut menyampaikan pendapat masing-masing. Perdebatan berlangsung tidak sealot rapat anggota DPR dalam memutuskan kenaikan harga BBM. Kami tidak sampai berinisiatif untuk walkout.  Akhirnya, kami putuskan untuk naik Bus Kramat Djati di Garasinya langsung. Kami tak perlu mengeluarkan uang untuk kesana karena kami diantar oleh bapak topi Germany Deutscher Fussbal. Sesampainya di garasi Bus Kramat Djati, kami ketinggalan bus. Lama menunggu akhirnya kami diantar ke Terminal Lebak Bulus. Disana kami menyempatkan diri sejenak untuk makan.
Ternyata, keputusan berubah lagi. Kami memutuskan untuk naik Kereta Api. Masalah muncul lagi. Kami tidak tahu bagaimana cara kami sampai ke Stasiun Gambir. Akhirnya dengan kekuatan matahari dan cahaya rembulan, kami memutuskan untuk naik Busway ke Harmoni.

CUKUP DENGAN 3500 PERAK, KAMU UDAH BISA NAIK BUSWAY KE SHELTER-SHELTER YANG DISEDIAKAN! AYO KITA NAIK BUSWAY!!!
*sekian pariwara*

Saya pikir, naik TransJakarta itu kayak iklan Ice Cream yang ada di TV. Ternyata, saya salah besar! Tidak ada yang namanya orang denger lagu terus tiba-tiba jatuh cinta sama cewek terus dikasih Ice Cream deh. -__- Berdesak-desakan yang ada. Mungkin, karena kami naik disaat jam pulang kerja ya.
Dalam TransJakarta yang kami tumpangi, saya melihat ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang mungkin berumur 12 tahun. Anaknya sedang sakit. Sungguh saya tidak tega. Saya melihat sekeliling. Nampaknya, tidak ada yang memperdulikan. Semua sepertinya sibuk dengan urusan dan pikiran masing-masing. Setiap ada orang yang menyentuh kaki sang anak, dia seperti meronta kesakitan dalam ketidakberdayaannya. Sungguh,saat itu saya benar-benar melihat kasih ibu yang sangat mulia. Beliau menjaga anaknya dengan baik tanpa menyakiti siapapun. Hampir saya meneteskan air mata saat itu juga, namun, saya masih bisa menahannya. *skip T.T*
Saya melihat tulisan di kaca TransJakarta, "Utamakan Anak Kecil, Penyandang Cacat, Ibu Hamil dan Lansia". Tapi nyatanya, orang-orang disana tetap saja membiarkan ibu-ibu berdiri. Tidak ada yang rela memberikan tahta kedudukannya untuk orang lain.
SANGAT KERAS hidup di kota ini.
Setelah berdiri,menjinjing tas yang berat, dang menggantungkan tangan ke pegangan TransJakarta selama kurang lebih hampir 2 jam, kami sampai di Harmony. Kami naik jembatan penyebarangan dan menikmati sejenak pemandangan sekitar dari atas.
Kami rapat dadakan lagi. Tanpa pembuka dan penutup dari Notulen, kami putuskan untuk pergi ke Gambir dengan Ojek dengan biaya 20 ribu per orang.

Sampai di Stasiun Gambir, kami memesan tiket kereta dengan biaya 325 ribu sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Sambil menunggu kereta, kami jalan ke Monas. Disana, kami menikmati tempat wisata gratis di Jakarta. Sambil melepas penat, beberapa diantara kami curhat -.- Sesekali terdengar suara anjing yang menggonggong dekat kami. Kyaa! Jauh-jauh sana >.<

















Setidaknya, kami bisa sedikit menghibur diri.

26 April 2012
Kami sampai di Surabaya. Rasanya sepanjang perjalanan berangkat sampai pulang, Toiletlah yang menjadi tujuan utama. Sedikit-sedikit ke toilet -.-
Kami naik taksi di Stasiun Pasar Turi ke Stasiun Gubeng. Kami berencana untuk naik kereta ke Jember. Tapi, lagi-lagi kami mengubah keputusan begitu mendengar harga kereta yang ada. 40 ribu untuk Eksekutif dan 35 ribu untuk Ekonomi. Lebih baik naik bus. Akhirnya uang 40 ribu kami melayang dengan percuma untuk bayar taksi koperasi. Kami menunggu bus dengan tujuan ke Bungurasih. Sembari menunggu, kami bercerita tentang kekalahan Madrid di Champion tadi pagi. Sungguh menyayat hati. Tiba-tiba penjual koran datang pada kami. "Loh, do. barusn iku ono bus sing nang Bungurasih. Wes tak kandhano nek ono penumpang seng arep melok. Lho. Gak taune gak ditumpaki" *kemudian hening* Astaga! kami benar-benar  tidak ada yang melihat bus datang. Gembel lagi.
Tak lama kemudian, kereta kuda bertuliskan Pasar Atom Bungurasih pun datang. Kami langsung naik. Sampai di Bungurasih, Edo langsung kembali ke kosannya dengan motornya. Saya, Dadan dan Roby masih saja ala Bagpacker dadakan masuk dan makan di salah satu kios dekat terminal.
Akhirnya, kami menemukan bus yang kami cari. Tapi HARGANYA MAHAL! Gak jadi deh.
Tapi Tuhan Maha Penolong menunjukkan kami satu bus yang arah Probolinggo. Kami nikmati saja perjalanan terakhir kami.

Yahh, begitulah kisah perjalanan saya Bagpacker-an bersama teman-teman. Setidaknya, saya sudah menyalurkan hobi saya seperti Riyanni Djangkaru atau Medina Kamil dan kami punya sedikit pengalaman menggembel. Keep SPIRIT!! :)

0 komentar:

Posting Komentar

what do you think?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...