RSS

Menunggu 'Obsesi'

Menunggu selama 3 tahun itu cukup menyedihkan ya. Iya. Sangat menyedihkan karena dunia dibuat seolah-olah hanya 1 orang yang hidup di dunia indah ini. Dunia dibuat seolah-olah hanya dia jodoh kita.
Menunggu seorang yang tidak tahu kalau dia sedang ditunggu itu sakit. Tapi, lebih sakit ketika orang yang ditunggu tahu bahwa ada orang yang menunggu dirinya disana dan ternyata tidak digubris ! SAKITNYA NAIK 100% !
Tapi perlu disadari bahwa menunggu juga bagian dari hidup. Sayangnya, tidak semua orang kuat untuk menunggu. Padahal, menunggu juga adalah sebuah usaha untuk menguji kesetiaan. Menunggu juga adalah salah satu keberanian dari pribadi masing-masing untuk menolak segala godaan yang datang.
Menunggu juga akan membuatmu menemukan cinta yang sebenarnya. Sama seperti lirik lagu Celine Dion - That's The Way It Is
Love comes to those who believe it and that's the way it is

Thanks for Loving Us

Heii, SaudaraTak terasa saya sudah umur 18 tahun, tak terasa pula sudah 5 bulan saya merantau di kota budaya, Jogjakarta. Sudah 5 bulan saya tak tinggal bersama keluarga. Kami hanya berkomunikasi lewat telepon. Saya mengetahui semua kabar dan berita keluarga hanya melalui komunikasi dua arah tanpa melihat wajah mereka, orang-orang yang paling saya sayangi di dunia. Walaupun, selalu saya yang minta ditelepon. Terkesan manja bukan ? Yahh. Saya kangen sekali dengan mereka. RINDU sekali. Bagaimana setiap hari saya menciumi kening dan pipi ayah dan ibu saya. Bagaimana saya setiap hari memeluk ayah dan ibu saya. Bagaimana saya setiap hari disuruh mereka untuk menjemput Floren atau Desmon ketika mereka pulang sekolah. Bagaimana saya setiap hari dijemput oleh ayah saya. Bagaimana saya hampir setiap hari mengantar ibu saya untuk misa, latihan koor, dan rapat dewan paroki. Bagaimana saya hampir setiap hari mendapat omelan dari ayah ibu saya karena susah makan. Ya. Semua masih teringat sekali dalam memori otak kiri saya..



2 orang hebat yang selalu berjuang untuk menghidupi 4 orang anaknya dan 2 orang keponakannya. 2 orang hebat yang pikirannya tak hanya berpikir tentang dirinya sendiri, tapi juga memikirkan anak-anak dan saudaranya. 2 orang hebat yang menanggung masalah - masalah yang bukan saja masalahnya sendiri tapi juga masalah orang lain. 2 orang hebat yang selalu jalan pagi ke bukit depan rumah untuk menjaga kesehatannya agar dapat selalu sehat. 2 orag hebat yang selalu mengingatkan saya akan pentingnya makan. 2 orang hebat yang selalu menyelipkan kata-kata 'Jaga Kesehatan ya, Nak'  setiap kami dalam line telepon. 2 orang hebat yang selalu mengirimiku uang ketika uang makanku menipis, walaupun disana sendiri belum tentu mempunyai uang juga.
Pa, Ma, aku tahu setiap uangku menipis, papa dan mama sigap mengirimiku uang. Saya tahu bahwa sebenarnya papa dan mama juga belum tentu ada uang ketika uangku menipis, tapi papa dan mama selalu bilang ada uang. Aku tahu mana yang benar. Papa dan Mama, bukanlah hal itu juga yang papa dan mama katakan ketika Mba Resa melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan ? Aku masih ingat, karena waktu itu aku masih ada di rumah....

Ya. 2 orang superhero yang sangat saya cintai. Papa & Mama .


Teruntuk mamaku di rumah.
Mama mengajari saya bagaimana caranya bertahan dalam tekanan dari luar. bagaimana cara menjadi seorang perempuan yang harus punya hati yang kuat, harus punya mental yang kuat. Jangan pernah nyerah sama keadaan yang dibuat oleh orang-orang sekitarmu.  Menjadi seorang yang tahan akan cobaan. Bagaimana caranya berdoa. Bagaimana caranya mengalah ketika ada makanan yang harus dibagi-bagi pada saudara-saudra yang lain. Bagaimana caranya menjadi seorang perempuan yang halus, walaupun sampai sekarang, masih saja saya main futsal. tapi setidaknya, saya sudah pernah memperlihatkan kepada mama bahwa saya bisa make rok selain rok seragam sekolah. hehehe .
Terima kasih Mama telah mengijinkan aku menggunakan gaun pernikahanmu waktu itu. Sungguh itu merupakan suatu kebanggaan bagiku walaupun saat itu aku hanya menjadi pembawa persembahan. Terima kasih, Ma.
Terima kasih juga untuk coklat Toblerone yang mama kasih waktu mama kalah nebak tempat yang disebutkan di acara Kick Andy. Terima kasih, Ma.

Teruntuk papaku di rumah.
Papa menjadi seorang panutan bagi saya dalam menapaki kehidupan. Papa mengajari banyak hal yang penting untuk bertahan hidup dan mandiri. Bagaimana caranya menaiki sepeda dan sepeda motor, bahkan papa mengajari saya mobil. Walaupun, mobilnya sempat menabrak dinding lapangan tempat saya latihan karena kebodohan saya. Papa mengajari saya bagaimana menjadi seorang yang tahan akan kondisi badan yang menyiksa sekalipun. 'Jangan nyennyek, ind' nyenyek itu semacam lemah. sedikit-sedikit mengeluh kesakitan atau apalah. Doktrin itu sampai sekarang masih terbawa.
Terima kasih papa atas kerutan-kerutan di dahi ketika aku sakit. Kerutan tanda kecemasan kan itu pa ? hehehe. Terima kasih juga atas ajaramu selama ini. Saya akui, papa pintar kok. Tidak seperti saya.
Terima kasih juga pa atas segala kesabaran yang selama ini papa lakukan. terima kasih sekali pa.



Terima kasih telah mengucapkan namaku di setiap doa papa dan mama. Terima kasih, Pa. Terima kasih, Ma.

Indira ~

impian 2 SD

Impian. Kita semua pasti punya impian. Pengen punya hape android, pengen punya pacar yang bla bla bla, pengen punya rambut kayak Anggun C. Sasmi, dan lain-lain. Sekecil apapun impian itu, itu tetap namanya impian. Jangan pernah malu untuk mempunyai impian. Kenapa mesti malu kalo ternyata semua orang juga punya impian walaupun berbeda-beda impian tersebut.
saya disini lebih suka menyebut kata impian daripada mimpi. menurut saya, mimpi adalah suatu hal yang belum tentu terwujud dan cara menggapainya pun hanya pasrah tanpa usaha. sedangkan impian adalah suatu hal yang kewujudannya tidak 100% tetapi ada usaha di dalamnya untuk diwujudkan. lagipula, mimpi itu bunga tidur. -_____-
postingan kali ini, saya ingin  berbagi sedikit tentang impian saya.
waktu kita masih kecil, kalo ditanya cita-citanya mau jadi apa, kebanyakan dari kita menyebut pengen jadi polisi, dokter, pilot, bla bla bla. ketika kita dewasa, mungkin cita-cita itu musnah ditelan waktu.
"Aku gak mau jadi pilot ahh. Kalo jadi pilot, matinya itu kalo gak terbakar ya tenggelam. gak enak dibelakangnya," begitu kata salah satu teman saya.
"Polisi ?! gak ahh. polisi kebanyakan korupsinya. dikit-dikit minta ceperan kalo tilangan,"
"Aku gak mau jadi dokter wes. kuliahnya sulit, banyak biayanya, ospeknya juga pake ke kamar mayat segala. Emohh"
begitulah alasan yang kudengar dari teman-teman saya. beda halnya dengan saya.
dulu, ketika saya masih kelas 2 SD, sepulang sekolah saya biasa dijemput oleh papa saya. Kami selalu melewati rute yang sama, tapi beda dengan hari itu. kami yang biasanya tidak melewati POLRES , hari itu kami melewatinya. saya biasa duduk di paling depan di sepeda motor. saya lihat jalan-jalan sekitar, orang-orang yang lewat, dan ketika itu mata saya tertuju pada 2 orang yang sedang berjalan kaki melewati polres. mereka berjalan dengan menjinjing tas mereka dan berpakaian coklat yang sangat muda dan dicampur dengan warna lain. Bingung warna apaan. saya yang saat itu tertarik pada mereka, langsung bertanya pada papa saya. "Pa, barusan papa lihat ndak orang yang jalan kaki depan polres make baju seragam. tapi bukan seragam polisi, bukan seragam tentara. Topinya kayak topi-topi jaman dulu yang dipake pahlawan-pahlawan yang ada difoto itu loh pa. pokoknya topinya kayak topi jadul itu lohh pa. keren pa. kayak tentara tapi bukan tentara. keliatan ndak ?" kataku dengan penuh semangat. "papa gak keliatan. Itu tentara paling" jawab ayahku. saya masih tetap tidak puas dengan jawaban papa. karena saya tahu kalo itu bukan tentara ataupun polisi. saya masih dipenuhi dengan rasa ingin tahu dan kagum.
ketika saya sudah beranjak remaja, impian saya semakin beragam. saya pengen jadi reporter, saya pengen jadi pembawa berita, saya pengen jadi bla bla bla. masih banyak sekali impian yang akhirnya malah tidak terpusat pada satu impian yang harus dikejar.
papa saya pernah menceritakan tentang sebuah perguruan tinggi kedinasan yang segala biaya ditanggung oleh pemerintah. Kata papa, disana semuanya benar-benar gratis dan langsung kerja. WOW ! saya saat itu hanya mendengarkan saja tanpa menangkap keinginan papa yang terselip di balik kata-katanya.

Waktu terus berjalan. Mbak saya yang selisih 2 tahun dengan saya menjalani kehidupan mahasiswa-nya di IPDN. saat itu, saya baru menyadari bahwa ternyata 2 orang yang saya lihat saat saya kelas 2 SD adalah seorang PRAJA IPDN. perguruan tinggi kedinasan yang papa ceritakan juga adalah IPDN. ya. Impian 2 SD saya semakin jelas. saya tahu, apa tujuan utama saya nanti setelah lulus SMA. Saya mau mengejar impian 2 SD saya ! saya berusaha mewujudkan impian saya itu. Saya berolahraga tiap hari. Waktu bimbingan belajar untuk SNMPTN pun, saya masih sempat pagi-pagi sepulang gereja untuk berolahraga sejenak di Lap. Rampal, Malang, bersama guru fisik saya, Husni. sewaktu kelas 3 SMA, saya juga meluangkan waktu pagi-pagi untuk berolahraga di alun-alun. walaupun tidak setiap hari, tapi mungkin kalo di rerata, setiap minggu pasti sedikit ada olahraga yang saya lakukan.
impian saya mungkin semakin besar karena kakak saya sudah masuk sana. ditambah lagi, disana katanya gak ada Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Ya ampunn.. Ini surga dunia,bung. :D

waktu terus berjalan. saya telah mengikuti sejumlah tes yang menjadi persyaratan masuk IPDN. namun, di tengah-tengah itu semua, saya diterima di  UNIVERSITAS GADJAH MADA. Itu adalah kampus impian saya juga. Kenapa ? karena saya menyukai kota Jogjakarta dan karena saya ingin meneruskan impian papa dulu yang ingin masuk UGM juga. sekilas info, dulu papa saya sudah diterima di UGM tapi fakuktas peternakan. rupanya papa obsesi fakultas pertanian. ditolak lah kesempatan itu. Saya diterima di jurusan Sos. Ek. Pertanian program studi Agribisnis. Saya diterima melalui SNMPTN undangan. sudah bukan rahasia publik lagi kalo kita melepas kesempatan dalam SNMPTN Undangan, pastilah ada konsekuensi yang diterima sekolah dan adik-adik kelas. karena hal itu, saya mulai meragu. apa iya saya lepas UGM ini dan menyengsarakan adik kelas atau saya mengejar impian 2 SD saya. SAYA RAGU ! saya mulai memikirkan hal ini ketika saya berdoa. Saya hanya meminta pada Tuhan untuk diberikan yang terbaik. itulah doa yang saya panjatkan ketika ingat 2 pilihan tersebut.

Senin, 3 September 2012. saya ada di kampus pagi itu mulai dari jam 7 pagi. saya hendak mengisi KRS online yang telah diberikan. sembari menunggu 'pemadam kebakaran' bertugas untuk memadamkan account teman-teman yang menunggu antrian KRS, Saya dan kelompok VERTISOL masih saja membicarakan tentang PPSMB yang baru saja selesai kemarin. Tiba-tiba hape saya berbunyi. dari Mbak  Resa rupanya. Lohh kok tumben dia telpon. apalagi, beda operator.aihh. ada apa ini ?! begitulah pertanyaan yang mengelilingi kepalaku. Ternyata, dia mau memberi tahuku tentang impian 2 SDku. Dia sudah tahu pengumumannya yang ada di internet.
"In, kamu udah liat pengumuman di forbangjatim belum ? sudah ada pengumumannya dah"
"bohh. aku belum liat mbak. aku masih ngisi KRS ini. gimana hasilnya ?"
"kamu mau aku yang kasih tahu atau kamu liat sendiri di internet?"
"kamu kasih tahu dulu dah mbak. ntar aku liat lagi di internet"
"yaudah kalo gitu. kamu belajar yang bener ya di UGM. UGM itu bagus dah ind. Kamu yang rajin disana yaa. ntar kalo aku ke jogja sama Kak Dypu, kamu jadi tour guidenya ya.Kamu gapapa kan?"
"bohh. kamu sungguhan mbak ? iyaa. aku gapapa kok. disini juga udah bagus banget mbak. aku santai jak. hehe"
 impian 2 SD saya terhenti di jalan. Gimana perasaan saya ? hmm.. yang saya tahu, Tuhan sudah menjawab doa saya. Tuhan tahu mana yang terbaik. Semua pasti INDAH PADA WAKTUNYA.
semua orang mempunyai impian masing-masing. ada yang mengejar impiannya sampai dapat. ada juga yang membuang impiannya dan meninggalkannya. ada juga yang menyimpan impiannya. Terserah kita, kita mau jadi orang seperti apa. Yang pasti, jangan malu untuk punya impian. dan jangan sesumbar sebelum kita tahu hasil yang telah diraih atas usaha yang kita lakukan untuk mengejar impian tersebut.

*NP:  I Won't Give Up - Jason Mraz*




Salam hangat, Indira

Menjadi Bagpacker Dadakan

Heii Saudara

23 April 2012. Pukul 18.00
Aku basahi tubuhku dengan air yang sudah tertampung di bak biru kamar mandiku. Kulit yang sebelumnya tampak sedikit berminyak mulai basah dengan guyuran dari gayung biruku. Setidaknya, saya masih terlihat lebih fresh daripada sebelumnya. Dengan muka yang pas-pasan ini, saya mulai mempersiapkan diriku dalam kamar. Dengan baju motif favoritku, kotak-kotak, berwarna biru dan celana panjang kusiapkan diriku sebaik mungkin.  Tas yang baru saja dibeli dari "Mall" yang ada di Situbondo sudah kupenuhi dengan perlengkapan yang saya butuhkan selama 3 hari di kota orang. Ya. Saya akan pergi ke Tanah Tuan selama 1 hari dengan perjalanan darat menggunakan bus yang akan memakan waktu 24 jam. WOW!

Playlist siap, Jaket Germany Deutscher Fussbal siap, Buku bacaan ringan siap.

Saya siap bolang!

Perjalananku ke daerah barat ini ditemani oleh 2 teman. Dadan dan Roby. Roby nampaknya lebih suka menghabiskan waktu dalam perjalanan dengan tidur atau mengatakan "Katondhu" artinya ngantuk. Begitulah Roby. Saya juga baru mengenalnya. Kalo Dadan, dia nampaknya lebih suka menjalani apa adanya. Kalo ngantuk ya tidur dan kalo pengen denger lagu ya minjem headset dan menikmati selera musiknya sendiri. Saya menikmati perjalanan ini dengen sesekali mendengarkan lagu yang telah kupersiapkan dari rumah dengan headset pinjaman dari Anggi. Atau saya membaca buku pinjaman dari Raras "Musim yang Menggugurkan Daun" karya Yetti A.K.A. Setidaknya, buku pinjaman itu bisa menambah kosa kata sastra.  -___- Atau menikmati pemandangan yang cukup indah.
Hampir sepanjang jalan banyak bunga jagung yang tumbuh. Walaupun, tidak semuanya.
Dalam perjalanan ternyata tidak semulus yang saya kira. Makan yang telat, AC yang terlalu dingin *maklum saya orang desa*, perut yang sakit, leher yang pegel, dan sebagainya.

Akhirnya, kami sampai di kota tujuan kami. Bogor. Kami turun di Terminal Baranang Siang dengan bantuan salah satu Bapak yang ternyata orang Besuki. *Kita saudara,Pak*. Saat itu hari sudah berganti hari selanjutnnya dan kami tiba pukul 19.00 WIB. Awalnya, kami ingin naik Angkot, tapi apa daya, kami buta arah. Walaupun sebenarnya kami memegang peta dan petunjuk ke tempat yang ingin kami tuju. Akhirnya, kami putuskan naik Taxi. Ya, dengan 3 orang, 100 ribu bisa dibagi 3. Puji Tuhan, kami sampai di tempat tujuan.


25 April 2012
Lagu  Hey Soul Sister punya Train membangunkan saya dari tidur yang nyenyak. Saya bersiap untuk pertama kalinya mandi di rumah orang lain. Airnya tidak terlalu dingin. Entah karena kulit saya yang hangat karena keringat yang mengucur cukup deras dari kemarin. hehehe. Yang jelas, air tadi sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Saya disegarkan dengan air kamar mandi yang selama 2 hari tidak saya rasakan. :3
Urusan berjalan lancar.

Pukul 13.00 saya sudah keluar dari penginapan dadakan dan menunggu 2 teman saya tadi plus Edo di luar warung Nasi Goreng yang jadi langganan dadakan kami. Dibawah terik matahari, Jaket Germany Deutscher Fussbal yang awalnya dipakai, saya tanggalkan. Cukup syal ungu pemberian mama, baju ungu, dan celana panjang jeans yang saya kenakan. Demi apa, tas yang saya bawa sungguh berat. Tidak seenteng tas teman saya yang lain. Berat rasanya.
Dengan bodohnya, saya masih menjinjing tas dan menunggu diluar warung dibawah sinar matahari. Saya ingin masuk kedalam. Tapi ternyata, didalam ada pasangan suami istri yang sedang makan. Saya sungkan. Apalagi, bapaknya make topi Germany Deutscher Fussbal. Tambah sungkan.
Tak lama kemudian, Edo, Dadan dan Roby pun datang. Kami masuk kedalam warung. Disana kami bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam hal kendaraan yang akan kami gunakan untuk pulang ke Situbondo. Ternyata, musyawarah kami ini melibatkan orang luar juga. Ibu-ibu warung, Bapak topi Germany Deutscher Fussbal, dan sang istri, Tante Reni ikut menyampaikan pendapat masing-masing. Perdebatan berlangsung tidak sealot rapat anggota DPR dalam memutuskan kenaikan harga BBM. Kami tidak sampai berinisiatif untuk walkout.  Akhirnya, kami putuskan untuk naik Bus Kramat Djati di Garasinya langsung. Kami tak perlu mengeluarkan uang untuk kesana karena kami diantar oleh bapak topi Germany Deutscher Fussbal. Sesampainya di garasi Bus Kramat Djati, kami ketinggalan bus. Lama menunggu akhirnya kami diantar ke Terminal Lebak Bulus. Disana kami menyempatkan diri sejenak untuk makan.
Ternyata, keputusan berubah lagi. Kami memutuskan untuk naik Kereta Api. Masalah muncul lagi. Kami tidak tahu bagaimana cara kami sampai ke Stasiun Gambir. Akhirnya dengan kekuatan matahari dan cahaya rembulan, kami memutuskan untuk naik Busway ke Harmoni.

CUKUP DENGAN 3500 PERAK, KAMU UDAH BISA NAIK BUSWAY KE SHELTER-SHELTER YANG DISEDIAKAN! AYO KITA NAIK BUSWAY!!!
*sekian pariwara*

Saya pikir, naik TransJakarta itu kayak iklan Ice Cream yang ada di TV. Ternyata, saya salah besar! Tidak ada yang namanya orang denger lagu terus tiba-tiba jatuh cinta sama cewek terus dikasih Ice Cream deh. -__- Berdesak-desakan yang ada. Mungkin, karena kami naik disaat jam pulang kerja ya.
Dalam TransJakarta yang kami tumpangi, saya melihat ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang mungkin berumur 12 tahun. Anaknya sedang sakit. Sungguh saya tidak tega. Saya melihat sekeliling. Nampaknya, tidak ada yang memperdulikan. Semua sepertinya sibuk dengan urusan dan pikiran masing-masing. Setiap ada orang yang menyentuh kaki sang anak, dia seperti meronta kesakitan dalam ketidakberdayaannya. Sungguh,saat itu saya benar-benar melihat kasih ibu yang sangat mulia. Beliau menjaga anaknya dengan baik tanpa menyakiti siapapun. Hampir saya meneteskan air mata saat itu juga, namun, saya masih bisa menahannya. *skip T.T*
Saya melihat tulisan di kaca TransJakarta, "Utamakan Anak Kecil, Penyandang Cacat, Ibu Hamil dan Lansia". Tapi nyatanya, orang-orang disana tetap saja membiarkan ibu-ibu berdiri. Tidak ada yang rela memberikan tahta kedudukannya untuk orang lain.
SANGAT KERAS hidup di kota ini.
Setelah berdiri,menjinjing tas yang berat, dang menggantungkan tangan ke pegangan TransJakarta selama kurang lebih hampir 2 jam, kami sampai di Harmony. Kami naik jembatan penyebarangan dan menikmati sejenak pemandangan sekitar dari atas.
Kami rapat dadakan lagi. Tanpa pembuka dan penutup dari Notulen, kami putuskan untuk pergi ke Gambir dengan Ojek dengan biaya 20 ribu per orang.

Sampai di Stasiun Gambir, kami memesan tiket kereta dengan biaya 325 ribu sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Sambil menunggu kereta, kami jalan ke Monas. Disana, kami menikmati tempat wisata gratis di Jakarta. Sambil melepas penat, beberapa diantara kami curhat -.- Sesekali terdengar suara anjing yang menggonggong dekat kami. Kyaa! Jauh-jauh sana >.<

















Setidaknya, kami bisa sedikit menghibur diri.

26 April 2012
Kami sampai di Surabaya. Rasanya sepanjang perjalanan berangkat sampai pulang, Toiletlah yang menjadi tujuan utama. Sedikit-sedikit ke toilet -.-
Kami naik taksi di Stasiun Pasar Turi ke Stasiun Gubeng. Kami berencana untuk naik kereta ke Jember. Tapi, lagi-lagi kami mengubah keputusan begitu mendengar harga kereta yang ada. 40 ribu untuk Eksekutif dan 35 ribu untuk Ekonomi. Lebih baik naik bus. Akhirnya uang 40 ribu kami melayang dengan percuma untuk bayar taksi koperasi. Kami menunggu bus dengan tujuan ke Bungurasih. Sembari menunggu, kami bercerita tentang kekalahan Madrid di Champion tadi pagi. Sungguh menyayat hati. Tiba-tiba penjual koran datang pada kami. "Loh, do. barusn iku ono bus sing nang Bungurasih. Wes tak kandhano nek ono penumpang seng arep melok. Lho. Gak taune gak ditumpaki" *kemudian hening* Astaga! kami benar-benar  tidak ada yang melihat bus datang. Gembel lagi.
Tak lama kemudian, kereta kuda bertuliskan Pasar Atom Bungurasih pun datang. Kami langsung naik. Sampai di Bungurasih, Edo langsung kembali ke kosannya dengan motornya. Saya, Dadan dan Roby masih saja ala Bagpacker dadakan masuk dan makan di salah satu kios dekat terminal.
Akhirnya, kami menemukan bus yang kami cari. Tapi HARGANYA MAHAL! Gak jadi deh.
Tapi Tuhan Maha Penolong menunjukkan kami satu bus yang arah Probolinggo. Kami nikmati saja perjalanan terakhir kami.

Yahh, begitulah kisah perjalanan saya Bagpacker-an bersama teman-teman. Setidaknya, saya sudah menyalurkan hobi saya seperti Riyanni Djangkaru atau Medina Kamil dan kami punya sedikit pengalaman menggembel. Keep SPIRIT!! :)

Deskripsi "Tahi Lalat"

Hari ini. Hari terakhirku melihatmu memakai seragam SMA.

Mungkin kalau kita bertemu lagi, aku akan melihatmu dengan kemeja rapih, sepatu hitam, dan tas ransel hitam usang yang mungkin sudah kamu pakai selama 2 atau 3 tahun yang lalu. Terlihat dengan resleting yang sepertinya dari jauh tampak usang dan mulai mbulet. Tas hitam yang selalu menemanimu ke sekolah. Aku tak pernah melihatmu menggunakan tas lain. Aku akan melihatmu berjalan tegak dengan kepala tertunduk. Mungkin akan ada gaya rambut baru darimu kelak. Selama SMA ini aku tak pernah melihatmu neko-neko. Rambut hitam dan tampak bersinar apabila terkena matahari. Bukan cepak, bukan juga jabrik. Biasa. Ya. Kamu ordinary.  Justru itu yang membuatmu tampak extraordinary. Dengan tatapan mata ke depan. Kamu akan menoleh apabila ada yang memanggilmu. Kalau tidak, kamu akan terus berjalan bersama 2 atau 3 teman kosmu dengan sesekali menundukkan kepala. Setiap pagi, kamu berjalan dengan senyuman kecil. Tak pernah kulihat kamu datang ke sekolah dengan alis yang menyatu atau mulut yang selalu penuh dengan kata-kata. Kamu tenang. Sungguh Super! Aku tidak akan melihatmu menggunakan baju olahraga sekolah kita. Kamu pasti akan memakainya dengan kaos kaki yang cukup tinggi sehingga hampir menutupi setengah betismu. Aku tidak akan melihatmu berlari lagi ketika Ujian Praktek. Ketika teman-temanmu sudah selesai semua, kamu baru datang. Aku yang melihatmu dari kejauhan lalu menyimpulkan kalau kamu lamban dalam berlari. Aku tidak akan melihatmu duduk di sudut bangku paling pinggir. Kamu tidak duduk di depan juga tidak di belakang. Kamu di tengah. Aku tidak akan melihatmu yang kadang duduk di kursi koridor kelas. Kadang, tidak sering. Kala aku lewat depan kelasmu, aku hanya sepintas melihatmu memegang buku. Entah itu buku pelajaran atau buku yang lain. Yang jelas, aku menyimpulkan kamu adalah seorang pembaca yang giat. Aku tidak akan melihatmu dari jendela kelas X-4 sementara ketika Ujian Sekolah. Aku tidak akan melihatmu dari koridor Ruang 1 dan 2 ketika Ujian Nasional. Aku juga tidak akan melihatmu lagi dari koridor kelasku. Aku tidak akan melihatmu sepulang sekolah di depan ruang BK. Ya. Mungkin kamu sedang menyiapkan masa depanmu dengan beberapa kali ke ruang BK. Aku tidak akan melihatmu melewati   Gang Laboratorium Kimia dan Laboratorium Fisika. Aku tidak akan melihatmu di depan Halte sekolah tiap pagi. Aku tidak akan melihatmu duduk di sebelah warung depan SD. 

Tapi,
Aku akan tetep melihatmu dengan titik hitam di pinggir hidung kirimu. Titik hitam yang mengandung lebih banyak melanin dibanding kulit sekitarnya. Itu khasmu. Dari situ, aku akhirnya mendapat sebuah julukan yang pantas untukmu, Freckles.  Maaf. Mungkin julukan itu akan terdengar seperti menyindirmu. Tapi, justru karena "freckles"mu aku dapat mengenalimu kelak.
You are always a mystery to me; you're one I never want to discover so I'll just admire you from afar to keep the wonder.
Semua yang terjadi di sekolah ini, biar cuman terjadi disini aja. - Sanni, Cinta Pertama

*sakwords*


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...